Jangan Mudah Percaya

jakarta

Ini cerita tentang seorang pemuda dari desa yang pergi merantau ke kota. Sebut saja namanya Bambang. Bambang mendapat undangan dari teman paman kakaknya tetangga nenek dari bapaknya di desa. Kebetulan orang itu direktur manajer di sebuah perusahaan terbesar di kota itu. Karena merasa itu kesempatan yang jarang didapatkan oleh semua orang, Bambang pun mengiyakan karena tak ingin menyiakan kesempatan yang langka itu.

Bambang ini dikenal sebagai orang pekerja keras, santun, tidak begitu polos dan berbakti kepada kedua orangtuanya. Sebelum Bambang pergi ke kota, ia pun memohon ijin kepada kedua orangtuanya. Tanpa pikir panjang pun, kedua orangtua Bambang merestuinya untuk mengadu nasib di kota tersebut. Sang ibu pun memberikan nasehatnya kepada Bambang,

Ibu: “Bang, nanti di kota hati hati ya nak, banyak tipu muslihat yang kadang tak terlihat oleh kita. Orang orang di kota itu berpendidikan tinggi, banyak yang menggunakan ilmunya untuk menipu pendatang baru seperti kamu”

Bambang: “Terus Bambang harus bagaimana bu untuk menghadapi orang orang seperti itu? Bambang jadi takut bu”

Ibu: “Ga usah takut nak, selama kamu ga mudah percaya sama orang disana pasti kamu akan selamat”

Bambang: “Iya bu, Bambang  janji ga akan mudah percaya ma orang orang di kota”

Ibu: “Pokoknya hati hati ya nak, jangan mudah percaya sama omongan orang orang disana”

Bambang: “Roger that!”

(Sangar tenan wong ndeso iso ngomong roger that)

Setelah mendapat ijin dari orangtuanya, berangkatlah Bambang ke kota. Bambang pergi ke kota naik bus. Seperti yang kita tahu, bus di kota jika ingin menurunkan atau menaikkan penumpang tidak pernah sampai benar2 berhenti. Pasti akan langsung jalan ketika salah satu kaki dari sang penumpang sudah naik/turun.

Ketika sudah mencapai tujuannya, Bambang akhirnya memutuskan untuk turun dari bus tersebut. Dengan penuh pertimbangan matang, maksudnya bawa banyak timbangan semacam buah buahan yang sudah matang, akhirnya Bambang pun bilang ke keneknya,

Bambang: “Pak mau turun pak”

Kenek: “Yo kiri..kiri..kiri… Kaki kiri dulu..kaki kiri dulu

Bambang pun tiba2 teringat akan pesan dari ibunya untuk tidak mudah percaya pada omongan orang2 di kota. Akhirnya dia memutuskan untuk turun dengan kaki kanan dulu. Dan alhasil, Bambang pun terjatuh terguling guling sampai kepalanya tiduran di trotoar (lebay dikitlah).

Dengan kesakitan pun, Bambang masih bisa bergumam, “aku turun pake kaki kanan aja bisa jatuh kayak gini,coba aku pake kaki kiri, bisa2 mati aku.”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s